| Hewan kurban kambing dan sapi |
Surabaya.LensaNuswara.my.id || Setiap kali Hari Raya Idul Adha mendekat, umat Muslim di seluruh dunia bersiap untuk menunaikan ibadah kurban. Hewan ternak seperti sapi, kambing, domba, atau unta mulai ramai dipilih. Satu hal yang sering kita jumpai di lapangan adalah dominasi hewan jantan yang dijual sebagai hewan kurban.
Hal ini memicu pertanyaan: Kenapa hewan kurban sebaiknya jantan? Apakah syariat melarang kurban dengan hewan betina? Untuk menjawab keraguan tersebut, mari kita bedah alasan syariat, pandangan fikih, serta hikmah di balik anjuran memilih hewan jantan.
1. Meneladani Sunnah Rasulullah SAW
Alasan utama mengapa hewan jantan sangat dianjurkan adalah karena faktor ittiba' atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalam berbagai riwayat hadis sahih, Rasulullah SAW secara konsisten mencontohkan penyembelihan hewan jantan untuk berkurban.
Salah satunya tercantum dalam hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, yang menyebutkan bahwa Nabi SAW berkurban dengan dua ekor domba jantan yang bertanduk, berwarna putih bercampur hitam, serta dalam kondisi sehat lagi gemuk. Berangkat dari sinilah para ulama sepakat bahwa memilih hewan jantan merupakan bentuk kesempurnaan dalam mengikuti sunnah beliau.
2. Kualitas Fisik dan Daging yang Lebih Baik
Dalam beribadah, Islam selalu mengajarkan umatnya untuk memberikan yang terbaik (ihsan). Jika ditinjau dari segi fisik, hewan jantan umumnya memiliki postur tubuh yang lebih kokoh, kekar, dan menghasilkan proporsi daging yang lebih banyak dibandingkan hewan betina. Dengan memilih hewan jantan yang gemuk dan sehat, manfaat daging kurban yang didistribusikan kepada para mustahik (penerima zakat/kurban) pun menjadi lebih maksimal.
3. Menjaga Keberlanjutan Populasi Ternak (Ekosistem)
Selain aspek ibadah, syariat Islam juga sangat memperhatikan kemaslahatan hidup manusia dan alam sekitar. Memprioritaskan hewan jantan untuk disembelih memiliki dampak positif yang besar terhadap ketahanan pangan dan peternakan.
Hewan betina memiliki peran reproduksi yang sangat vital untuk melahirkan generasi ternak baru. Jika hewan betina—terutama yang produktif atau sedang bunting—banyak disembelih, populasi ternak bisa merosot tajam. Oleh karena itu, menyembelih hewan jantan membantu menjaga keseimbangan ekosistem peternakan agar tidak punah.
4. Simbol Keberanian dan Pengorbanan yang Maksimal
Secara maknawi dan simbolis, beberapa ulama mengaitkan karakteristik hewan jantan (yang kuat dan tangguh) dengan esensi dari kurban itu sendiri. Ibadah kurban adalah napak tilas dari pengorbanan luar biasa Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Mengorbankan hewan jantan yang berbobot besar dan bernilai tinggi di pasar mencerminkan kesungguhan seorang hamba dalam mengikis ego kepemilikan duniawi demi meraih rida Allah SWT.
Perspektif Fikih: Bolehkah Kurban dengan Hewan Betina?
Meskipun hewan jantan lebih diutamakan, apakah sah hukumnya jika berkurban dengan hewan betina?
Menurut pandangan mayoritas ulama fikih, berkurban dengan hewan betina hukumnya tetap sah. Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmu' menjelaskan:
"Tidak makruh berkurban dengan hewan betina, namun hewan jantan jauh lebih utama."
Syariat Islam memberikan kelonggaran ini agar ibadah kurban tetap bersifat inklusif dan fleksibel. Jika di suatu daerah terjadi keterbatasan dana atau sulit menemukan hewan jantan, maka masyarakat tetap bisa membeli hewan betina sebagai alternatif, asalkan memenuhi syarat sah kurban (yaitu cukup umur, sehat, dan tidak cacat).
Kesimpulan
Pertanyaan mengenai mengapa hewan kurban harus jantan terjawab bukan karena adanya larangan mutlak bagi hewan betina, melainkan karena nilai keutamaannya (afdhalitas).
Memilih hewan jantan adalah perpaduan indah antara menjalankan sunnah Nabi, memberikan kualitas konsumsi terbaik bagi sesama, serta menjaga kelestarian populasi hewan ternak. Mari kita persiapkan kurban terbaik kita dengan penuh keikhlasan dan ilmu agar ibadah ini bernilai tinggi di sisi Allah SWT.

0 Komentar