![]() |
| Dr. Drs. I Ketut Putra Suarthana, M.M Rektor Universitas Triatma Mulya |
BADUNG.LensaNuswara.my.id || Pembangunan sektor pariwisata tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur fisik, tetapi harus diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia (SDM), khususnya dari kalangan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Drs. I Ketut Putra Suarthana, M.M., Rektor Universitas Triatma Mulya sekaligus pendiri Hotel Puri Saron. Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi anak muda di bidang pariwisata menjadi kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis dalam menciptakan peluang kerja baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat melalui sektor pariwisata.
“Melalui kompetensi di dunia pariwisata, anak muda diharapkan mampu mencapai tujuan mereka, baik meningkatkan penghasilan maupun membuka lapangan kerja, sehingga dapat menekan angka pengangguran,” ujarnya.
Lebih lanjut, Putra Suarthana menekankan bahwa pengembangan SDM tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga harus dibarengi dengan pembentukan karakter dan moral. Nilai-nilai positif, baik dari sisi mental maupun sikap, dinilai penting agar generasi muda mampu menghadapi tantangan globalisasi tanpa kehilangan jati diri.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara pembangunan fisik dan kualitas SDM dalam industri pariwisata. Infrastruktur seperti bar, restoran, dan vila memang menjadi penunjang utama, namun kualitas pelayanan tetap menjadi faktor penentu kepuasan wisatawan.
“Fasilitas adalah tubuh, sementara SDM adalah roh pariwisata. Keduanya harus berjalan beriringan. Tanpa SDM yang unggul, fasilitas tidak akan memberikan dampak maksimal,” tegasnya.
Di sisi lain, ia turut menyoroti dinamika sektor transportasi pariwisata di Bali, khususnya terkait hubungan antara transportasi konvensional dan transportasi berbasis aplikasi. Menurutnya, sektor transportasi memiliki peran vital dalam menunjang mobilitas wisatawan selama berlibur.
Ia menilai polemik yang terjadi saat ini dipicu oleh perbedaan cara pandang dalam menyikapi perkembangan teknologi. Oleh karena itu, diperlukan komunikasi yang konstruktif antar pemangku kepentingan serta kehadiran pemerintah untuk menghadirkan regulasi yang jelas dan tidak tumpang tindih.
“Persoalan ini harus segera diselesaikan karena berdampak pada citra pelayanan pariwisata Bali di mata wisatawan,” imbuhnya.
Di akhir pernyataannya, Putra Suarthana berpesan kepada generasi muda agar tetap menjaga identitas budaya di tengah arus globalisasi, sekaligus adaptif terhadap perubahan zaman. Ia juga mendorong anak muda untuk terus mengembangkan potensi diri guna memperkuat daya saing di sektor pariwisata.
