Suasana Kalimas di sore hari (Ilustrasi by AI)


SURABAYA.LensaNuswara.my.id – Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga yang memantul di permukaan air sungai Kalimas yang tenang. Di sepanjang bantaran sungai legendaris ini, deretan bangunan tua berdiri kokoh bak penjaga waktu yang membisu. Bagi sebagian orang, ini hanyalah pemandangan gedung-gedung kusam, namun bagi mereka yang mau "membaca," arsitektur di kawasan Kota Tua Surabaya ini adalah lembaran buku sejarah yang menceritakan kejayaan, perdagangan, hingga pergolakan revolusi.

Kalimas bukan sekadar sungai. Ia adalah nadi yang menghidupkan Surabaya sejak zaman Kerajaan Majapahit hingga masa kolonial. Di sinilah kapal-kapal dagang dari mancanegara bersandar, membawa rempah, kain, dan ideologi. Arsitektur yang tersisa di tepiannya hari ini adalah bukti fisik bagaimana Surabaya pernah menjadi pelabuhan paling sibuk dan kosmopolitan di Hindia Belanda.

Jembatan Merah: Titik Nol Memori

Menelusuri nostalgia Kalimas tak lengkap tanpa berdiri di atas Jembatan Merah. Secara visual, jembatan ini mungkin tampak sederhana, namun arsitektur di sekelilingnya adalah salah satu yang paling padat sejarah di Indonesia. Di sisi barat jembatan, berdiri bangunan-bangunan dengan gaya Indische Empire dan Renaissance yang megah, mencerminkan kekuatan ekonomi Belanda pada abad ke-19.

Gedung Internatio, misalnya, dengan pilar-pilarnya yang besar dan fasad yang dominan, bukan hanya sekadar kantor perdagangan. Gedung ini adalah saksi bisu tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, peristiwa yang memicu pertempuran 10 November. Memperhatikan detail beton dan jendela-jendela tinggi di gedung ini seolah membawa kita kembali ke masa di mana Surabaya menjadi medan laga yang membara.

Harmoni Arsitektur di Balik Sempadan Sungai

Bergerak sedikit ke arah utara menuju kawasan Kembang Jepun, karakter arsitektur mulai berubah. Di sini, gaya kolonial bercampur dengan estetika oriental. Bangunan-bangunan ruko (rumah toko) dengan balkon kayu yang menonjol dan atap pelana menjadi penanda bahwa kawasan ini adalah pusat perdagangan etnis Tionghoa.

Keunikan arsitektur di tepi Kalimas terletak pada fungsinya yang adaptif. Bangunan-bangunan ini dirancang dengan pintu-pintu besar menghadap ke arah sungai, memudahkan bongkar muat barang langsung dari perahu ke gudang. Jika Anda memperhatikan detail ventilasi udara yang besar dan langit-langit yang tinggi, itu adalah solusi cerdas arsitek masa lalu untuk menyiasati udara Surabaya yang panas dan lembap sebelum adanya pendingin ruangan.

"Setiap lekuk bangunan di sini punya cerita. Ada pengaruh Belanda, Arab, Tionghoa, dan lokal yang melebur jadi satu. Ini yang kita sebut sebagai melting pot budaya dalam bentuk fisik," ujar salah satu pegiat komunitas sejarah lokal yang sering mengadakan tur jalan kaki di kawasan tersebut.

Ancaman Waktu dan Upaya Pelestarian

Namun, membaca sejarah lewat arsitektur di tepi Kalimas bukanlah tanpa hambatan. Waktu adalah musuh utama. Banyak bangunan di kawasan Jalan Gula dan Jalan Karet kini dalam kondisi memprihatinkan. Dinding yang mengelupas, ditumbuhi tanaman liar, hingga sengketa kepemilikan membuat beberapa permata arsitektur ini terancam roboh.

Meskipun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya mulai berbenah. Revitalisasi kawasan Kota Tua oleh pemerintah kota mulai menampakkan hasil. Lampu-lampu hias bergaya klasik dipasang, trotoar diperlebar, dan beberapa gedung mulai dialihfungsikan menjadi kafe atau ruang kreatif tanpa mengubah struktur aslinya.

Langkah ini dianggap krusial. Arsitektur kota tua bukan hanya tentang romantisme masa lalu, tapi juga tentang identitas kota di masa depan. Menghancurkan satu gedung tua berarti menghapus satu bab dari sejarah Surabaya yang tidak bisa ditulis ulang.

Kalimas di Malam Hari: Refleksi Masa Depan

Saat malam tiba, kawasan tepi Kalimas berubah menjadi lebih hidup. Lampu-lampu dari gedung tua yang memantul di air sungai menciptakan suasana nostalgik yang magis. Wisata perahu yang kini tersedia memungkinkan warga dan turis untuk menikmati kemegahan arsitektur ini dari sudut pandang para pedagang masa lalu: dari tengah sungai.

Nostalgia di tepi Kalimas adalah pengingat bahwa Surabaya adalah kota yang besar karena keterbukaan dan keberaniannya. Membaca arsitekturnya adalah cara kita menghargai warisan para leluhur yang telah membangun kota ini dari lumpur sungai menjadi kota metropolis.

Selama gedung-gedung itu masih berdiri, cerita tentang kejayaan di tepi Kalimas tidak akan pernah benar-benar hilang. Ia akan tetap di sana, menunggu setiap generasi untuk datang, melihat, dan kembali membacanya.

(Reporter Adi W)