GIANYAR, LensaNuswara.my.id — Perubahan nama produk herbal legendaris Bali dari Kutus Kutus menjadi Sanga Sanga tengah menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat. Transformasi ini tidak hanya memicu rasa penasaran publik, tetapi juga menghadirkan pertanyaan: apakah perubahan ini sekadar strategi branding, atau benar-benar peningkatan kualitas?
Jawaban atas pertanyaan tersebut mulai terkuak saat rombongan Pena Nusantara Bersatu (PNB) DPD Kabupaten Badung melakukan kunjungan langsung ke PT Kutus Kutus Herbal di Gianyar, Bali. Dalam kunjungan tersebut, pendiri Sanga Sanga, Bambang Pranoto, bersama sang istri, Riva Effrianti, memberikan penjelasan terbuka mengenai arah baru produk herbal yang telah dikenal luas ini.
Bukan Sekadar Ganti Nama, Ada Strategi Besar di Baliknya
Bambang Pranoto menegaskan bahwa perubahan dari Kutus Kutus menjadi Sanga Sanga bukan sekadar pergantian merek.
“Ini bukan hanya soal nama. Kami melakukan penyempurnaan formulasi agar lebih adaptif dengan kebutuhan masyarakat saat ini, tanpa meninggalkan jati diri produk,” tegas Bambang.
Ia menyebut, tantangan zaman menuntut produk herbal untuk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga berinovasi agar tetap relevan di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan alami.
Sementara itu, Riva Effrianti menambahkan bahwa transformasi ini merupakan simbol pembaruan sekaligus keberlanjutan.
“Nama baru ini adalah harapan baru. Namun yang paling penting, kualitas dan khasiat tetap kami jaga. Bahkan kini lebih optimal karena langsung disempurnakan oleh penciptanya,” ujarnya.
Antara Kepercayaan Lama dan Ekspektasi Baru
Di satu sisi, perubahan ini membawa semangat baru. Namun di sisi lain, publik tetap menaruh perhatian besar terhadap konsistensi manfaat yang selama ini telah dipercaya.
Kepercayaan masyarakat terhadap Kutus Kutus selama bertahun-tahun menjadi modal besar bagi Sanga Sanga. Oleh karena itu, menjaga kualitas menjadi kunci utama agar transformasi ini tidak justru menimbulkan keraguan.
Testimoni Pengguna: Khasiat Tetap Terjaga
Sejumlah pengguna mengaku tidak merasakan penurunan kualitas, bahkan justru menemukan peningkatan kenyamanan.
“Saya sudah lama pakai sejak masih Kutus Kutus. Sekarang jadi Sanga Sanga, aromanya lebih halus dan lebih nyaman di kulit. Untuk pegal dan capek tetap ampuh,” ungkap Ibu Made Suryani, warga Denpasar.
Hal serupa juga disampaikan oleh Agus Santoso, pengguna dari Surabaya.
“Setelah dipakai, badan terasa lebih ringan dan rileks. Menurut saya kualitasnya tetap terjaga, bahkan lebih enak dipakai,” katanya.
Testimoni ini menjadi indikator awal bahwa transformasi tersebut tidak menghilangkan kepercayaan yang telah terbangun sebelumnya.
Lebih dari Bisnis: Ada Dampak Sosial
Menariknya, Bambang Pranoto juga menekankan bahwa usaha yang dijalankannya tidak semata berorientasi profit.
“Kami ingin produk ini memberi manfaat luas, termasuk membuka lapangan pekerjaan dan membantu ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Perusahaan ini diketahui telah melibatkan ribuan tenaga kerja serta berkontribusi terhadap penguatan ekonomi lokal, khususnya di Bali.
Pesan untuk Generasi Muda: Yakin dan Semangat
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga menyampaikan pesan yang cukup kuat bagi generasi muda.
“Yakin itu kendaraan, semangat adalah bahan bakarnya. Kalau dua ini ada, kita bisa melangkah jauh,” ujarnya.
Sementara Riva Effrianti menambahkan pentingnya proses dalam membangun kesuksesan.
“Jangan ingin instan. Justru dari proses itulah kita belajar dan berkembang,” tuturnya.
Sanga Sanga, Ujian bagi Produk Lokal
Transformasi ini pada akhirnya menjadi ujian bagi Sanga Sanga: mampu atau tidak menjaga kepercayaan lama sekaligus menjawab tuntutan baru pasar modern.
Jika berhasil, Sanga Sanga bukan hanya sekadar wajah baru dari Kutus Kutus, tetapi juga simbol bahwa produk herbal lokal Indonesia mampu beradaptasi, bertahan, dan bahkan berkembang di tengah persaingan yang semakin ketat.


